mengenang tabayun ke dua ahmadiyah

IMG_4255
Kegiatan Gerakan Ahmadiyah Indonesia, Yogyakarta, pada Ramadan 2013.

Menjelang Idulfitri 2017 ini, Masjid Ahmadiyah di Sawangan, Depok, dilempari cat dan telur oleh sekelompok orang. Teror ini bukan yang pertama. Terbitnya Surat Keputusan Bersama tiga menteri pada Juni 2008 yang memerintahkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) untuk menghentikan kegiatan seolah jadi pembenaran.

Saat kasak kusuk surat itu, saya menyambangi markas Ahmadiyah di Yogyakarta pada medio April 2008. Plang yang menunjukkan identitas bangunan itu sudah dicopot 2005 silam. Waktu itu, fatwa sesat dijatuhkan oleh MUI kepada JAI. Untuk mengantisipasi hal-hal tak diinginkan, oleh pengurus JAI papan nama itu pun diturunkan.

Toh, warga setempat tahu di Jl. Atmosukarto, Kotabaru, Gondokusuman itulah Sekretariat JAI Yogyakarta berada. Aktivitas organisasi bergulir dari kantor itu. Sekitar 230 orang umat JAI Kota Yogyakarta menjadikannya sentra kegiatan. Tempat itu memiliki masjid dan perpustakaan. Bangunan ini merupakan hadiah pemerintah ketika Ahmadiyah membantu pergerakan kemerdekaan RI.

Minggu siang lalu suasana kantor JAI tampak tenang. Beberapa sepeda motor terparkir di halamannya yang tak begitu luas. Pintu dan jendela terbuka lebar-lebar. Dari luar, gambar dan foto pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, dan para khalifah yang terpasang di salah satu sisi tembok, terlihat.

Ruang tamunya luas tanpa sekat. Ada rak-rak berisi berbagai macam buku. Sejumlah engurus dan anak-anak menonton tivi. Ada satu bilik dengan seseorang mengoperasikan komputer. Sebuah pintu menghubungkan ruang itu dengan masjid.

Menurut Damar Harjotirto, pengurus dan mantan Ansorullah JAI Yogyakarta, salah satu anggota JAI Sayid Syah Muhammad telah menerjemahkan dan mewartakan kemerdekaan Indonesia dalam bahasa India dan Urdu. “Nah, rumah ini sebagai penghargaan atas usaha beliau,” kata Damar.

Damar sudah sepuh, sekitar 60 tahun. Ubannya banyak. Ia tambun. Penampilannya biasa. Mengenakan batik, berpeci, dan berkacamata, insinyur dan penyandang gelar MT ini berbincang dengan renyah dan kerap berseloroh. Tak jarang ia tergelak dan melempar banyolan—jauh dari kesan angker dan saklek dalam berkeyakinan.

“Biasa-biasa saja, tidak ada reaksi apa-apa, kegiatan berlangsung seperti biasanya,” kata Hendra, pengurus harian sekretariat tersebut, yang menemani Damar. Usia Hendra 20 tahunan. Secangkir teh hangat manis lalu ia suguhkan. Hendra menyatakan jamaah tetap berkeyakinan dan menjalankan ibadah sehari-hari seperti biasa.

Menurut Hendra, belum ada respon menyikapi vonis sesat dari Bakor Pakem. “Kami masih menunggu koordinasi dan instruksi dari (JAI) pusat,” ujarnya. Tapi ia yakin, karena JAI legal dan berbadan hukum, tidak mudah untuk membubarkannya. “Harus dibawa sampai pengadilan,” katanya.

Tentang 12 butir pernyataan, selama ini tidak ada sosialisasi yang terprogram. Itu karena isi 12 pernyataan tersebut sebetulnya sama dengan yang biasa mereka lakukan. “Saya malah belum pernah pegang kitab Taskiroh,” akunya. Isi kitab itu sebetulnya hanya catatan-catatan khalifah, namun oleh awam sering dianggap sebagai kitab suci Ahmadiyah.

Memperkenalkan Ahmadiyah bukannya tak dilakukan. “24 Maret lalu kami mengadakan seminar di Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta,” kata Hendra. Tahun 2000 bahkan digelar seminar skala internasional tentang Ahmadiyah yang mengundang Khalifah ke Yogyakarta. Acara didukung oleh sejumlah dosen UGM, termasuk Ichlasul Amal, rektor UGM saat itu. Buku dan rekaman video soal JAI juga sudah dibikin.

Kesan pertama Damar terhadap rekomnedasi Bakor Pakem terhadap Ahmadiyah adalah heran. “Sejak jaman Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, hingga Megawati, kita enggak pernah diutak-atik, lho,” katanya. “Kenapa sekarang dipermasalahkan.”

Selama ini ormas-ormas yang sudah lama ada di Indonesia juga tak berpolemik dengan Ahmadiyah. “NU dan Muhammdiyah tak pernah memusuhi kami,” katanya.

Di tingkat dunia, Ahmadiyah juga sudah diakui, yakni di 195 negara dengan total sekitar 200 juta penganut, salah satunya pemenang Nobel fisika asal Pakistan, Abdus Salam. Bila mau dibandingkan dengan kelompok Islam lain, lebih-lebih yang getol mendesak pembubaran, kontribusi Ahmadiyah juga tak bisa dibilang sedikit. Yakni, menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa lokal, seperti Jawa dan Sunda.

Warga Ahmadiyah pun punya sumbangsih terhadap bangsa. Ia mencontohkan WR. Supratman atau Arief Rahman Hakim. “Ada juga yang berjasa dalam persiapan kemerdekaan, Soeroso Malangyoedo,”ujar Damar.

Soal adanya Imam Mahdi yang diyakini Ahmadiyah, banyak orang Islam yang memang belum siap dengan kehadiran pemimpin. Sebetulnya banyak yang merindukan seorang pemimpin. Tapi, tak kunjung berhasil terpilih. “Akan selalu dipermasalahkan asal usulnya,” kata dia. Namun alangkah baiknya jika tidak sepakat, yang diterapkan adalah lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Ia menilai, pihak-pihak yang tidak bisa menerima perbedaan dalam berkeyakinan memiliki pandangan yang sempit. “Itu bukan sikap seorang negarawan, tapi organisasiwan,” kata Damar yang pernah bekerja di Departemen Pekerjaan Umum ini.

Ia sepakat dengan pendapat para tokoh bangsa seperti Amien Rais atau Gus Dur yang Jauh berbeda dengan lontaran mereka yang ngotot membubarkan Ahmadiyah. Bagi Damar, “Mereka ini baru belajar jadi muslim yang baik.” Dan siapapun pihak yang menabur kebencian, kata Damar, keislamannya akan kami ragukan.

Tudingan yang salah kerap dialamatkan pada JAI. Misalnya, ada yang berkata, “Ahmadiyah itu hajinya di London,” kata Damar menirukan. Atau, JAI adalah antek Amerika. Tuduhan itu atas dasar penolakan negara-negara Barat terhadap pembubaran Ahmadiyah lewat sebuah surat yang dilayangkan pada Kepala Balitbang Depag. “Itu malah jadi bukti kami dianggap antek mereka,” katanya.

Bahkan dalam khotbah sebuah ormas Islam, sang ustadz berseru bahwa darah orang Ahmadiyah itu halal. “Ya halal, karena kami sering donor darah, ha..ha..ha..” Damar terbahak.

Tidak benar juga jika syahadat Ahmadiyah berbeda. “ Silakan tanya anak kecil (umat Ahmadiyah), kalau Syahadatnya beda, silakan gorok leher saya,” kata Damar serius.

Pihak yang bersikeras Ahmadiyah bubar itu Damar ibaratkan sebagai orang buta yang memegang gajah. “Kalau yang dipegang ekornya, ya gajah itu kayak cuma ekornya. Kalau yang dipegang yang lain, lain lagi,” paparnya. “Mestinya mereka pakai kacamata yang lebih luas. Mereka yang marah itu biasanya merasa dirugikan. Dirugikan apanya saya ndak tahu,” ucapnya.

Damar tak menampik jika pembubaran Ahmadiyah dilandasi kepentingan politik. “Saya yakin ada sesuatu, tapi pastinya apa saya tidak tahu,” kata Damar. Politik ini maksudnya dalam arti luas dan tidak melulu politik praktis seperti agenda pemilu 2009. “Kalau Ahmadiyah dengan pemilu nggak ada hubungannya,” katanya.

Toh, jika pihak-pihak itu sudah keterlaluan, jemaah akan berdoa agar Allah Swt menghukum mereka. “Doa orang yang teraniaya itu berbahaya, lho,” katanya sambil tersenyum. Meski, bagi Damar, hingga kini pihak-pihak itu belum sampai ke taraf keterlaluan itu.

Selain pada khalifah, Damar menyatakan warga Ahmadiyah akan patuh pada pemerintah. Makanya, kalaupun pemerintah resmi membubarkan Ahmadiyah, mereka akan menurut. “Bubar secara organisasi, tapi tidak dalam ibadah dan akidah,” katanya.

Terhadap pihak-pihak yang kontra, Damar yakin, umat Ahmadiyah tidak benci, memaafkan, dan hanya beristighfar. Karena, selain berpegang pada Islam sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam, JAI punya moto love for all, hatridge for none. Cinta bagi semua, benci tidak untuk siapapun.

Jika berpedoman prinsip itu, tidak salah bila relasi jemaah dengan warga sekitar juga normal. Siti, seorang warga yang Minggu siang lalu menemani suaminya berjualan kain-aksesoris persis di depan kantor JAI, mengaku tak ada masalah.

Sepanjang berdagang di sana beberapa tahun ini, ia tak menjumpai ribut-ribut atau kejadian tak mengenakkan dari pihak JAI. Ia pun tak dikenai uang sewa tempat usahanya. Soal keyakinan pun, bukanlah problem. “Padahal, jujur saja, saya ini PKS. Nggak apa-apa, orang sama-sama Muslim,” kata Siti.

Namun tetap saja vonis yang dijatuhkan pada Ahmadiyah itu punya imbas. Sekolah-sekolah yang menyandang nama PIRI di Yogyakarta adalah salah satu pihak yang juga kena getah. Setidaknya santer jadi bahan gunjingan.

Kata orang-orang, sekolah berbagai jenjang, dari SD hingga SMA, yang bernaung di bawah Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) itu adalah “sekolahnya orang Ahmadiyah”. Maksudnya, yang mendirikan, mengelola, dan memiliki adalah penganut Ahmadiyah.

Meski jadi bahan rumpi, aktivitas sekolah berjalan seperti biasa. Misalnya di SMP PIRI 2 Yogyakarta di Jl. Nalen No.1 Umbulharjo, Yogyakarta. Sabtu siang itu murid-murid putri sedang berlatih upacara untuk memperingati Hari Kartini. Laiknya sekolah Islam lain, siswi-siswinya berjilbab.

Kendati demikian, aturan itu agaknya tak terlalu ketat. Guru-gurunya juga berpenampilan biasa. Tatkala itu, para guru mengenakan seragam batik. Dari situ, setidaknya terlihat bahwa sekolah PIRI memang tak terlalu saklek menerapkan ketentuan Islam.

Salah satu guru sekolah tersebut, Harno, menyatakan sekolahnya tidak punya hubungan dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Ia mengakui, awam sering kali keliru ihwal Yayasan PIRI. Orang kebanyakan, terutama di Yogyakarta, menganggap yayasan tersebut didirikan dan dikelola oleh umat Ahmadiyah.

Namun, menurut dia, Yayasan PIRI dirintis oleh Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), bukan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. “Gerakan dan Jemaat (Ahmadiyah) itu beda dan terpisah,” kata Harno.

Ia menjelaskan bahwa keduanya memang “bersaudara dan satu guru”. Ia mengaku tak tahu nama guru itu. “Tapi lalu pecah jadi dua,”ujar guru berumur lima puluh tahunan ini. Nah, Gerakan lebih bergerak di bidang pendidikan. Jemaat, kata Harno dengan mimik yang seakan emoh disangkutpautkan dengan Ahmadiyah, baru masuk Indonesia belakangan.

Sekolah PIRI tak mempekerjakan anggota JAI. Kendati hanya untuk guru umum yang tak punya urusan dengan akidah, bukan guru agama. Ia justru menjelaskan, guru-guru di SMP PIRI 2 datang dari latar keagamaan Islam yang beragam. “Ada yang NU, Muhammadiyah, IAIN,” ungkapnya.

Tapi kenapa guru dari Jemaat Ahmadiyah enggak ada? Harno menjawab, “Fundamentalnya itu yang beda.” Perbedaan keyakinan itu dikhawatirkan berpengaruh pada cara pengajaran mereka. Memang tak ada aturan formal yang menyebut anggota Jemaat Ahmadiyah jadi guru di sana.

Info Harno ada benarnya, tapi kurang lengkap. Secara terpisah, Hendra dari JAI menjelaskan perpecahan itu. Menurut dia, ketika khalifah Ahmadiyah pertama wafat, terjadilah suksesi. Muncul saling klaim dari sejumlah pihak yang merasa berhak menggantikan. Nah, ketika terpilih khalifah pengganti, mereka yang tidak puas lantas memisahkan diri dan membentuk kelompok lain, yakni Ahmadiyah Lahore. “Jadi GAI itu dari Ahmadiyah Lahore,” katanya.

///

Puncak kesadisan pada pengikut Ahmadiyah terjadi di Ciekusik, awal 2011. JAI alias Ahmadiyah Qadiyan menjadi sasaran amuk massa, dipukuli hingga mati di depan polisi.
Namun kondisi JAI di Yogyakarta kala itu relatif aman. Di sini, JAI berdampingan dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) atau Ahmadiyah Lahore. Meski berbeda pandangan, keduanya kerap disalahmengerti oleh awam sebagai satu Ahmadiyah yang sama.

Sekretaris Pedoman Besar GAI Mulyono mengatakan hal itu saat ditemui di kantor pusat GAI di jalan Kemuning 14, Baciro, Yogyakarta, yang satu kompleks dengan sejumlah sekolah Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI). Pada ruang tamu kantor itu terpasang lukisan pendiri Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad (MGA), ulama Muhammad Ali, dan pendiri GAI Djojosoegito dan sang istri, yang pernah jadi ketua yayasan PIRI.

Mulyono bilang kejadian di Cikeusik tidak berpengaruh terhadap GAI, baik pusatnya di Yogya maupun di daerah lain. Hingga kini tidak ada laporan intimidasi atau ancaman dari pihak lain, termasuk kalangan islam radikal, terhadap GAI. “Secara organisasi kami berbeda, badan hukumnya juga terpisah. Pandangan kami dengan JAI tentang Mirza Ghulam Ahmad juga berbeda, bahkan bertentangan,” kata sarjana agama dari jurusan dakwah UIN Sunan Kalijaga itu dengan santai.

Masyarakat Yogya sekitar kantor GAI juga sudah mudeng dengan GAI dan tidak merancukan dengan JAI. Itu karena GAI beserta masjidnya, Masjid Darusssalam, sudah ada sejak lama sebelum isu ini mencuat. Masjid Darussalam digunakan bersama warga sekitar non-GAI di Baciro, juga dengan aula sekolah PIRI.

Menurut Mulyono, anggapan GAI sesat berdasar fatwa MUI 2005 tidak relevan. Lantaran, bunyi fatwa tersebut ‘menegaskan kembali fatwa 1980’. “Sedangkan fatwa 1980 jelas-jelas berjudul Ahmadiyah Qadiyan dan mengacu pada badan hukum JAI,” kata dia, sambil menunjukkan fotokopi fatwa-fatwa itu.

Mulyono bercerita pada 14 Januari 2008 GAI pernah diundang bagian litbang Departemen Agama ke masjid Baitul Quran, TMII, Jakarta. Pertemuan itu kelak menghasilkan 12 butir kesepakatan Ahmadiyah JAI. “GAI kapasitasnya sebagai saksi,” kata Mulyono, 55 tahun.

Selain 6 orang dari JAI, forum itu dihadiri 4 orang GAI, termasuk Mulyono, juga unsur instansi lain. “GAI ini tidak ada masalah, resepnya apa. Mbok JAI ini seperti GAI,” kata kepala litbang depag saat itu Atok Mudhar seperti ditirukan Mulyono. Dalam kesempatan itu, GAI tidak memberi pendapatnya.

Hasilnya, meski tidak eksplisit, JAI menyatakan Mirza Ghulam bukan nabi, melainkan hanya mujadid atau guru. Menurut Mulyono, itu adalah hasil kompromi maksimal dari JAI. GAI pun tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi menyikapi kasus JAI. Bagi Mulyono, SKB pun upaya pemerintah dengan ‘pembatasan JAI untuk mengatasi keadaan’. “Saya yakin JAI mengikuti itu (tidak menyebarkan ajarannya),” katanya.

Di Yogyakarta, hubungan formal JAI dan GAI tidak ada. Kerjasama tertentu pun nihil. Dialog keduanya belum pernah. Toh, relasi personal berjalan baik. Jika ada undangan, orang per orang dari kedua pihak saling hadir. Mulyono sendiri bilang ia kerap dapat undangan pengajian JAI atau tatkala perayaan hari besar Islam, peringatan Nuzulul Quran, atau buka puasa bersama.

“Pengajian JAI biasa saja, tidak ada unsur mengajak, menyebarkan, bahkan memaksa keyakinan mereka,” tuturnya.

Menurutnya, JAI mengklaim anggotanya di Indoensia ada 500 ribu orang. Padahal JAI sudah ada sejak 1925 atau 80 tahun. Sedangkan umat Islam kita 90% dari 240 juta orang.
“Artinya perkembangan mereka lambat. Kok ditakutkan. Ini ada sesuatu di luar soal keagamaan,“ katanya. ”Masak tikus masuk rumah semua barang dikeluarkan dan rumahnya dibakar.”

Langkah pengucilan pun susah. Kalau pun mau ditaruh di satu pulau, mereka juga butuh kerja. Bagaimana juga dengan istri anak yang bukan JAI. Toh, selama ini JAI juga sudah membatasi diri dengan berkegiatan di komunitasnya saja. Ia mengapresiasi langkah JAI Yogyakarta yang menurunkan papan nama jika hal itu dianggap menyebarkan ajaran JAI.

Bagaimana dengan usul pembubaran JAI juga GAI? Mulyono punya jawaban. Sejak 2005, ia mengaku selalu bilang begini: GAI sah secara hukum. Jadi berhak mendapat perlindungan pemerintah dan mengembangkan ajarannya. “Namun jika negara tidak memberi perlindungan, demi ketentraman negara, kami tidak keberatan jika dibubarkan. Apalagi pegangan Ahmadiyah Lahore adalah taat pada pemerintah yang sah dan undang-undang.”

Tapi, “saya tidak tahu apakah JAI punya pikiran seperti ini,”katanya. Namun ia mengakui opsi itu berat karena JAI bagian dari organisasi internasional. “Masalahnya, apakah ada jaminan setelah JAI bubar akan jadi lebih baik,” lanjutnya. Karena, ada kasus penyerangan lain pada tarekat di Indramayu atau ponpes Syiah di Pasuruan.

Mulyono menolak Opsi JAI jadi agama baru. “Pendapat itu berbahaya. Yang mengatakan itu meninggalkan Quran dan tidak cerdas. Tuhan bisa murka,” katanya. Sebabnya Al Quran jelas-jelas menyebutkan Islam sebagai agama terakhir dan sempurna.

Mulyono menegaskan opsi terbaik tetap dengan jalan dialog. “Masak pemerintah dengan sekian ribu ulama kalah pinter. Nabi saja Islamkan orang yang paling jahat saja bisa,” katanya. Ia lantas membandingkan dengan Walisongo yang menyebarkan Islam di pulau Jawa. Apalagi kata dia JAI sudah “sekian persen muslim”—keyakinannya sudah banyak yang sama dengan Muslim kebanyakan.

Pemerintah mesti semakin intensif melakukan pembinaan. Mulyono berharap para ulama dikonsentrasikan untuk membina JAI. Menurtunya, 12 butir kesekapatan JAI adalah kompromi maksimal. Yang pasti, mengutip satu ayat Quran, berbantah-bantahanlah dengan baik.

“Kalau berbantahannya dengan batu, itu mengkhianati Quran. Nah, kalau semangatnya kembali ke Quran, endingnya akan baik,” tuturnya.

Mulyono mengatakan tak kuatir apa yang menimpa JAI akan dihadapi GAI. Ia juga telah berkomunikasi dengan GAI di daerah lain. Secara ekstrim, misalnya pemerintah anggap GAI patut dibubarkan, pihaknya rela. Ia yakin GAI bisa berkembang tanpa organisasi. “Organisasi bukan tuhan. Ahmadiyah juga bukan agama,” katanya.

Ahmadiyah Lahore menganggap Mirza Ghulam sebagai mujadid. Toh, anggotanya juga mengikuti ‘guru’ lain. Dalam fikih, banyak warga GAI mengikuti Imam Syafii. Secara teologi, tak sedikit yang mengikuti Hasan Al Asyari dengan ahlussunah wal jamaah-nya. Ada pula yang ikut tarekat Abdul Qadir Jaelani dan ada yang tertarik dengan pemikiran Al Ghazali. “Mirza Ghulam sebagai salah satu mujadid di antara banyak mujadid yang kami ikuti,” katanya.

Ekstrimnya, kata Mulyono, jika ada sikap dan pernyataan MGA tidak relevan dengan Quran, pihaknya akan menunjukkan itu sebagai bukti MGA bukan nabi. Secara faktual, pada bukunya, Mirza Ghulam sempat mendaku sebagai nabi.

Tapi dalam buku-buku lain sesudahnya, karena respon pengakuannya itu, ia mencabut pernyataannya dan menyatakan tidak pernah mengaku sebagai nabi. Ahmadiyah Lahore berpedoman pada hal terakhir ini.

“Ahamdiyah Lahore penegak keyakinan akhir kenabian pada Muhammad SAW. Ahmadiyah Lahore akan menentang kalau ada yang mengaku nabi termasuk itu Mirza Ghulam, meski ini menyakitkan Jamaah Lahore sendiri,” tuturnya.

Mulyono menjelaskan anggota formal GAI tidak lebih dari 2000 orang senasional, namun yang eksis tak sampai 500. Sebagai pusatnya, di Yogyakarta ada maksimal 200 orang. Awak GAI gampang berbaur dengan masyarakat. “GAI tidak punya ciri khas secara praktik dan prinsip,” tutur Mulyono.

Buku pegangan GAI dua: Quran Suci (quran bahasaIndonesia hasil terjemahan mereka) dan Islamologi karya Muhammad Ali. Buku-buku ini, seperti ditunjukkan Mulyono, legal atas nama dan izin Depag.

Ia mengakui dibanding JAI, GAI kalah rapi. Cerita-cerita perjuangan Nabi Muhammad jadi motivasi JAI. JAI ada juga iuran rutin, GAI tak ada dana khusus dan lebih sering iuran sukarela dari anggotanya. PIRI pun hanya memberi sumbangan jika ada momen tertentu.

GAI punya penerbit yang terbuka untuk umum, Darul Kutubil Islamiyah. Tapi kata Mulyono itu tak bisa dianggap menghasilkan uang. Dulu, 1953, GAI pernah untung besar dengan ratusan ribu Quran Jarwa Jawi yang pada awal-awalnya cetak di Belanda. Cetakan terakhirnya 3000 eksemplar pada 2001.

Dari hasil ini GAI pernah punya aset tanah 2500m2 di Jakarta. Karena terbengkalai tanah dihuni orang. Baru 2-3 tahun silam diurus lagi. Meski GAI punya surat-suratnya, Mulyono bilang akhirnya aset tersebut diikhlaskan.

Sampai sekarang GAI tidak pernah ‘didatangi’ atau dibina unsur pemerintah-depag, MUI, secara resmi. “Padahal pembinaan atau apapun namanya itu dari pemerntah depag atau MUI, kami rindukan dari dulu. ini bukan untuk cari selamat sekarang saja,” katanya.

Ia juga mempersilakan jika pemerintah tersebut berkhotbah atau hadir di pengajian di masjid Darussalam GAI yang sudah berdiri sejak 1953.”Sebelum di daerah ini ada masjid-masjid lain, masjid GAI jadi pusat keagamaan masyarakat umum secara luas,” katanya.

Toh, GAI pernah mengundang ulama-ulama luar GAI secara personal untuk mengisi pengajian mereka. Antara lain dari Muhammadiyah, NU, dari PKS,hingga ketua MUI yogya Thoha Abdurrahman. Pengajian rutin bulanan GAI tiap minggu ketiga. Hadirin 25-80 orang. Adapun kajiannya sudah lama macet. Di luar itu ada perayaan hari besar, dan syawalan, yang melibatkan pengurus PIRI.

Adapun ‘pembinaan’dari kelompok umat islam lain juga tidak ada. Begitu pula GAI di Kediri yang cukup besar. Terakhir, Gus Sholah turut mengundang GAI untk ikut workshop di Jombang.

Mulyono menjelaskan GAI tidak terikat dengan Ahmadiyah Lahore internasional. Tiap negara bisa punya gerakan sendiri, tidak berkoordinasi, dan tidak punya kepengurusan terpusat seperti Ahmadiyah Qadiyan di London. Karena itu, Ahmadiyah Lahore di tiap negara punya style berbeda. Suriname, misalnya, karena salah satu awaknya punya 5 stasiun radio, mereka berdakwah via udara.

Selain itu, Ahmadiyah Lahore tentunya ada di Pakistan, Kepulauan Fiji, Trinidad, dan Amerika Serikat. Di Trinidad, organisasinya kuat. Di AS, awaknya sedikit tapi perannya luar biasa. Misalnya Ahmadiyah Lahore AS menerbitkan 25 ribu eksemplar Quran bahasa Rusia untuk negara-negara pecahan Uni Soviet. Sempat aktivisnya ditangkap, tapi dilepaskan aparat setelah diperiksa karena hanya menyebarkan Quran.

Mulyono banyak cerita Ahmadiyah Lahore di Suriname. Kebetulan salah satu anggotanya yang keturunan Jawa beberap waktu lalu berkunjung ke GAI. Karena tak ada organisasi resmi, di sana ada dua Ahamdiya Lahore: untuk keturunan Jawa dan non-Jawa.

Penganutnya 500 ribu. Mereka bisa membangun masjid yang megah dan bagus. Mereka antusias dengan Quran berbahasa Jawa terbitan GAI. Di negara-negara ini tidak ada cerita rebutan umat Lahore dan Qadiyan. “Bahkan di Suriname ada Ahmadiyah Lahore dan Qadiyan yang besanan,” kata Mulyono.

Beda Suriname, beda Indonesia. Mulyono menegaskan, “Tidak kenal dakwah demi Ahmadiyah tapi dakwah demi islam. Kami tidak punya semangat untuk besar (secara organisasi). Kami gerakan pemikiran, kuantitas tidak penting.”

Kalau begitu, apa tolok ukur pencapaian Ahmadiyah Lahore? Mulyono berkisah, Mirza Ghulam dihujat karena tuduhan menghilangkan makna jihad secara fisik yang berkembang dan diterima luas.

Misalnya dalam buku Sulaiman Rasyid tahun 1956, jihad dianggap sama dengan perang. Buku ini juga jadi referensi penting di Indonesia. Menurut Mulyono, Mirza Ghulam lah yang dari awal menyerukan jihad bukan dengan senjata.

Dulu paham ini ditentang banyak ulama, sekarang sudah diterima luas. “Kalau orang mau percaya atau tidak ini karena peran Mirza Ghulam, itu soal lain,” katanya. “Kami tidak punya tendensi untuk tampakkan kebaikan. Ibarat garam dunia, tidak tampak tapi terasa.”

Hingga 2011, di Yogyakarta ada 4 SMK, 2 SMA, 3 SMP, juga TK, SD, dan akademi teknik masing-masing satu milik PIRI. Selain di Yogya ada sekolah PIRI di Purwokerto, Lampung, Sumatera Selatan.

Muktamar GAI 1947 di Purwokerto menghasilkan dua keputusan: menerima Pancasila sebagai dasar dan mendirikan sekolah. Hasilnya sekolah PIRI ini. Pada Muktamar 1959, sekolah berdiri sendiri. “Jadi GAI dan PIRI tidak ada hubungan. Badan hukumnya terpisah,” kata Mulyono yang mengajar agama di Akademi Teknik PIRI.

Jumlah murid sekolah PIRI di Yogyakarta turun. Tahun 1996 ada sekitar 6000 siswa, tahun-tahun ini, 2011, ada ‘separonya lebih sedikit’. Mulyono menampik hal itu karena isu Ahmadiyah, namun karena persoalan umum sekolah sawasta. Juga tidak ada murid yang minta keluar karena soal Ahmadiyah.

Khusus untuk SMK PIRI, Mulyono bilang justru ada kemajuan. Di Purwokerto muridnya sampai 1000 orang, sedangkan SMK di Sumatera Selatan prestasinya mengalahkan SMK negeri. “Murid-murid PIRI kebanyakan karena alumni atau keluarganya dulu dari PIRI jadi sudah tahu tentang GAI,” katanya.

Sekolah PIRI mengajarkan pendidikan agama termasuk soal ‘prinsip-prinsip Ahmadiyah Lahore yang benar, utamanya tentang penjelasan frase ‘khatamun nabiyin’. “Muhammad sebagai nabi terakhir itu mutlak. Tapi murid juga tidak dikondisikan atau malah dipaksa masuk GAI,” ujarnya.

Dari 500-an guru karyawan sekolah PIRI Yogyakarta, hanya 30 orang yang resmi masuk GAI. Saat SKB 3 menteri diterbitkan, sekolah memberi penjelasan ke siswa bahwa GAI tidak ada hubungan dengan SKB itu, juga dengan JAI. Namun kini Mulyono bilang tidak ada penjelasan macam itu lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s